Minyak Kutus Kutus merupakan salah satu produk herbal yang lagi populer beberapa tahun kebelakang. Minyak Balur hasil racikan dari Babe Servasius Bambang Pranoto ini dipercaya mampu menyembuhkan banyak jenis penyakit. Meski baru beroperasi selama lima tahun sejak 2013, namun usaha minyak herbal Tamba Waras Kutus Kutus berkembang dengan sangat cepat.

Minyak kutus kutus adalah minyak rempah herbal buatan Servasius Bambang Pranoto pada tahun 2012. Bambang, sapaan akrabnya, meracik minyak ini sendiri untuk mengobati kelumpuhan yang ia alami akibat kecelakaan pada tahun 2011.

Setelah menggunakan minyak ini selama kurang lebih tiga bulan, Bambang merasa kelumpuhannya berangsur membaik. Dari situlah, Bambang mencoba melakukan berbagai eksperimen untuk memperbaiki kualitas minyak yang dihasilkannya. Setelah memasarkan dari mulut ke mulut, lama-lama permintaan minyak ini semakin meningkat. Banyak orang yang mengaku sembuh dari penyakitnya karena menggunakan minyak ini secara teratur.

Minyak ini dibuat secara tradisional dengan menggunakan bahan dasar minyak kelapa asli dan campuran 48 jenis tanaman herbal berkhasiat lainnya. Pembuatnya menyatakan bahwa tidak ada unsur hewani dan bawang yang terkandung dalam minyak ini. Selain itu, minyak ini juga tidak menggunakan tambahan bahan kimia sama sekali.

“Saat ini produksi setiap bulannya mencapai 1 juta botol minyak Kutus Kutus. Jika harga per botol Rp 230.000, maka omzet kotor perusahaan per bulan mencapai Rp 230 miliar,” ujar Bambang Pranoto kepada wartawan.

Menurut Bambang, minyak Kutus Kutus tercipta bukan murni dari niat untuk bisnis, namun tercipta atau ditemukan formulanya saat ia menderita sakit.

Salah satu klaim manfaat minyak kutus kutus yang paling fenomenal adalah kemanjurannya mengobati berbagai macam penyakit, dari yang ringan seperti meriang hingga penyakit kronis seperti kanker.

Dan untuk kamu yang berdomisi di Surabaya, dan bingung mencari agen yang jual minyak kutus kutus di surabaya, bisa menghubungi salah satu distributor resmi yaitu The Kutus Kutus. Meskipun berkantor di Bali, The Kutus Kutus bisa mengirimkan ke seluruh Indonesia tanpa dikenakan ongkos kirim. Dan tentunya produk yang dijual asli dari Bali langsung.

Meski mengandung banyak tanaman herbal, ada 8 bahan dasar yang terkandung dalam minyak kutus-kutus, yaitu:

1. Daun neem
2. Daun ashitaba
3. Purwaceng
4. Bunga lawang
5. Temulawak
6. Pule
7. Kayu gaharu
8. Minyak kelapa

Menurut Bambang, minyak Kutus Kutus tercipta bukan murni dari niat untuk bisnis, namun tercipta atau ditemukan formulanya saat ia menderita sakit

“Kutus Kutus ini ada karena saya sakit, waktu itu saya ingin mencari apa yang bisa menyembuhkan penyakit saya, dan saya akhirnya bisa sembuh dari apa yang saya buat, dan kemudian saya perdagangkan. Mulai 2013 diperdagangkan secara komersial sampai sekarang 2018 terus meningkat penjualannya, dengan jumlah reseller lebih dari 3.000 orang se Indonesia,” ujar Bambang yang pernah menderita lumpuh ini, namun berhasil sembuh dengan minyak yang diciptakannya.

Bahan minyak Kutus Kutus, sebut Bambang, berasal dari bahan-bahan yang ada di tanah Indonesia. Semua rempah-rempah dan bahan lainnya murni berasal dari Indonesia. Minyak Kutus Kutus menggunakan 49 jenis bahan tanaman obat, dimana semua bahannya adalah tumbuhan dan tidak ada bahan kimia atau bebatuan.

“Minyak Kutus Kutus ini saya temukan saat saya menderita sakit. Melalui sebuah eksperimen dengan menggunakan tubuh saya sendiri sebagai bahan percobaan. Tapi jauh sebelumnya saya memang telah mempelajari pengobatan herbal dan selalu menggunaan bahan-bahan herbal untuk mengatasi gangguan kesehatan yang saya alami,” ujarnya.

Bambang mengakui untuk mencapai hasil seperti saat ini tidaklah mudah, perlu perjuangan keras sejak tahun 2013. Pertama kali membuat ratusan botol minyak Kutus Kutus, tidak ada yang membeli alias tidak laku.

“Produksi pertama 500 botol tidak laku. Kemudian setelah berjalan produksinya naik terus, mulai 2016 meningkat 20 ribu an botol, 2017 naik 70 ribu an botol, 2018 naik seratus ribu an botol, dan mulai Oktober dan November 2018 sudah bisa produksi satu juta botol per bulan dengan omzet penjualan kotor Rp 230 miliar per bulannya. Ini luar biasa untuk sebuah perusahaan sederhana,” ujar pria yang sebelum tinggal di Gianyar Bali, lama bekerja sebagai seorang profesional sebuah perusahaan internasional di negeri Belanda.