Home » Bisnis » Negara Yang Menjadi Tujuan Ekspor Ikan

Catatan minor Pemerintah Indonesia di dalam mobilisasi roda perekonomian di sektor perikanan dan kelautan keluar berasal dari kinerja ekspor perikanan yang dikerjakan selama 2017. Sepanjang tahun tersebut, target ekspor sebesar USD7 miliar yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), gagal tercapai.

Hal itu dikatakan Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan menjelang pergantian tahun 2017 ke 2018 lalu. Menurut dia, kegagalan meraih target ekspor, menjadi penanda ada kesalahan di dalam kinerja perikanan yang dikerjakan KKP sebagai instrumen Pemerintah Indonesia.

Capaian Ekspor 2017

Berkaitan dengan kinerja ekspor produk perikanan selama 2017, Nilanto mengatakan, sampai November 2017 nilainya telah meraih USD4,09 miliar dengan volume ekspor meraih 979.910 ton. Dari segi nilai, 2017 mengalami kenaikan sampai 8,12 % dibandingkan dengan periode yang mirip terhadap Januari-November 2016. Anda juga bisa lhoo memesan ikan laut yang sudah pasti segar pada Produsen Ikan Laut

“Peningkatan nilai ekspor disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah kenaikan harga ekspor dan meningkatnya ekspor produk yang punya nilai tambah. Karena itu, penurunan volume ekspor tidak berpengaruh terhadap nilai ekspor,” papar dia.

Untuk penurunan volume ekspor terhadap produk tertentu, Nilanto menyebut, itu mampu berjalan dikarenakan produk tersebut punya harga yang rendah. Tetapi, dia menambahkan, terhadap produk dengan harga tinggi, terhadap 2017 termasuk mengalami penurunan volume produksi. Produk-produk tersebut adalah udang, rajungan dan kepiting, cumi, sotong, dan gurita serta rumput laut.

“Dari lima produk unggulan, cuma group tongkol, tuna, dan cakalang (TTC) yang mencatat kenaikan volume ekspor dibandingkan tahun lalu,” sebut dia.

baca : Praktik Berkelanjutan di dalam Bisnis Perikanan dan Kelautan, Seperti Apa?

Untuk kinerja impor produk perikanan, terhadap periode Januari sampai November 2017 meraih USD433.380 ribu dengan volume meraih 346.350 ton. Tren tersebut, menurut Nilanto, menunjukkan persentase kenaikan sampai 14,43 % dibandingkan periode yang mirip terhadap 2016.

“Namun hal ini, tidak berpengaruh terhadap nilai neraca perdagangan dikarenakan persentase nilai impor cuma 10,31 % terhadap nilai ekspor,” jelas dia.

Berdasarkan komoditas utama yang diperdagangkan, Nilanto menjelaskan, tren nilai ekspor periode Januari – November 2016-2017 mengalami kenaikan untuk komoditas udang 0,53 persen, tuna-tongkol-cakalang 18,57 persen, rajungan-kepiting 29,46 persen, cumi-sotong-gurita 16,54 persen, rumput laut 23,35 persen, dan lainnya naik 3,61 persen.

Suasana pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman Muara Baru, Jakarta Utara terhadap November 2016. Foto : Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Sementara, berdasarkan negara target ekspor, tren nilai ekspor periode Januari – November 2016 – 2017 mengalami kenaikan ekspor ke Amerika Serikat naik 12,82 persen, Jepang naik 8,31 persen, ASEAN naik 3,42 persen, Tiongkok naik 11,28 persen, dan Uni Eropa naik 9,38 persen.

Selain capaian ekspor dan impor, terhadap 2017 Direktorat Jenderal PDSPKP menerbitkan Izin Pemasukan Hasil Perikanan (IPHP) sebanyak 677 izin untuk 237 importir. Izin yang diterbitkan itu, peruntukan impor terbesar adalah untuk bahan baku pengalengan dengan realisasi impor sebesar 33.248 ton atau 58 % realisasi terhadap IPHP terbit.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang memberikan info kepada media di Jakarta, Kamis (11/01/2018), mengakui terkecuali ekspor Indonesia pas ini mengalami penurunan. Tetapi, dia menambahkan, terkecuali dibandingkan dengan negara lain yang menjadi pesaing, kinerja ekspor Indonesia menunjukkan lebih baik.

“Jadi, ekspor meskipun turun, namun dibandingkan dengan negara lain itu termasuk lebih baik,” tegas dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi mengklaim, ada kenaikan nilai ekspor berdampak positif terhadap peningkatan pajak berasal dari sektor perikanan. Kata dia, pendapatan bersih pajak berasal dari sektor perikanan meningkat berasal dari Rp734 miliar terhadap 2014 menjadi Rp1,082 triliun terhadap 2017 atau mengalami peningkatan sampai 47,41 persen.

Proyeksi 2018

Kegagalan meraih target ekspor perikanan terhadap 2017, mengakibatkan KKP berpikir ulang untuk mengambil keputusan target ekspor perikanan terhadap 2018. Jika pada mulanya KKP sempat mengambil keputusan target 2018 sebesar USD8,53 miliar, namun setelah target 2017 gagal tercapai, target 2018 diturunkan menjadi USD5,4 miliar.

Nilanto Perbowo mengakui, dengan target yang ditetapkan terhadap 2017, pihaknya sulit untuk mewujudkannya. Meski demikian, dia menyebut terkecuali nilai ekspor Indonesia terhadap 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Target nilai ekspor tidak barangkali tercapai berasal dari target yang ditetapkan tahun 2017. Tampaknya kita amat optimis di dalam dua tahun terakhir. Karenanya kita menurunkan target ekspor perikanan untuk tahun depan,” jelas dia.

Pembersihan ikan tuna di PT Harta Samudera Pulau Buru, Maluku, terhadap akhir Agustus 2017. Perikanan di tempat tersebut mempraktekkan komitmen fair trade dan perikanan terus-menerus bagi nelayan setempat. Foto : Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Walaupun terhadap 2017 gagal meraih target ekspor perikanan, Nilanto pada mulanya dulu meyakini bahwa Indonesia bakal menjadi negara eksportir perikanan besar di dunia dan berpotensi menjadi eksportir terbesar di dunia. Optimisme tersebut muncul, dikarenakan Indonesia punya potensi perikanan yang amat besar. Anda juga dapat dengan mudah mendapatkan ikan laut lhoo di Supplier Ikan Ekspor

“Namun, agar potensi besar tersebut mampu dimanfaatkan dengan baik, kudu ada regulasi yang terus-menerus dan berkelanjutan. Termasuk, di dalamnya adalah regulasi untuk memelihara ikan berasal dari para pencuri. Jika itu telah dilakukan, kita optimis Indonesia langsung menjadi negara perikanan besar di dunia,” sebut dia.

Untuk diketahui, badan pangan dunia PBB (FAO) pada mulanya termasuk telah memprediksi negara-negara yang bakal menguasai pasar ekspor dunia terhadap 2024. Tetapi, berasal dari nama-nama yang disebut FAO, tidak terkandung nama Indonesia di dalamnya. Hanya ada nama Tiongkok, Vietnam, Norwegia, Amerika Serikat, Thailand, dan Uni Eropa yang diprediksi menguasai pasar ekspor 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *